Old school Swatch Watches

Home || Back

Ngalap Berkah ala Jahiliyyah

Ngalap Berkah ala
Jahiliyyah
19 March 2010 | Dilihat 58 kali |
Ngalap berkah alias mencari
berkah ( التَّبَرُّكُ ) merupakan
ibadah yang harus didasari
keikhlasan dan ilmu, sebab
sebagian orang salah dalam
memahami makna ngalap berkah.
Mestinya seseorang mencari
berkah dari Allah -Ta’ala-, tapi
mereka mencari berkah pada
makhluk, dan tempat-tempat
yang tidak dibenarkan oleh Allah
-Azza wa Jalla-.
Realita ngalap berkah yang salah
dan batil seperti ini, amat
banyak kita temukan di bawah
kolong langit. Tidak usah jauh
melihat, lirik saja pemandangan
aneh di Solo dengan adanya
sekelompok manusia yang ngalap
berkah (mencari berkah) dari
seekor kerbau bernama "Kiyai
Slamet". Sedihnya, mereka
berebutan kotoran si kerbau
dengan anggapan bahwa
kotoran itu memiliki berkah yang
bisa mendatang kebaikan dan
menolak bala’. Na’udzu billah
minasy syirki wa ahlihi.
Toleh saja kepada sekelompok
manusia yang mengaku muslim
saat mereka mendatangi
kuburan orang-orang yang
dianggap sholeh alias wali-wali,
seperti kuburan Wali Songo,
kuburan Syaikh Yusuf (Gowa,
Sulsel). Mereka mendatangi
kuburan-kuburan itu dengan
meyakini bahwa penghuni
kuburan memiliki berkah yang
layak dicari dan diminta dari
mereka. Demi mendapatkan
berkah ini, disana mereka
melakukan berbagai macam ritual
ibadah yang tak pernah Allah
perintahkan untuk dilakukan,
seperti menyirami kuburan "wali-
wali" tersebut dengan
wewangian bercampur air,
menabur bunga di atasnya,
mengusap nisannya, membaca Al-
Qur’an dan lainnya,
melaksanakan sholat sunnah,
bernadzar, menyembelih hewan
ternak, berdoa di sisinya, dan
banyak lagi macam ibadah
dilakukan disana. Semua ini
mereka lakukan sebagai bentuk
ngalap berkah ( التَّبَرُّكُ ) dari
selain Allah -Ta’ala-. Allah tak
pernah memerintahkan hal
tersebut, sebab itu adalah
kesyirikan yang dahulu dilakoni
oleh kaum Quraisy.
Para pembaca yang budiman,
BERKAH ( الْبَرَكَةُ ), bila ditilik
maknanya, maka ia berarti
banyaknya, tetapnya, dan
kontinyunya sesuatu yang
memiliki kebaikan. Dengan kata
lain, berkah itu adalah kebaikan
yang banyak dan kontinyu pada
sesuatu. [Lihat At-Tamhid li
Syarh Kitab At-Tauhid
(hal. 160) oleh Syaikh Sholih bin
Abdil Aziz At-Tamimiy, dan
Tahdzib Al-Lughoh
(3/373)]
Para ulama Ahlus Sunnah wal
Jama’ah menerangkan bahwa
berkah hanyalah berasal dari
Allah -Azza wa Jalla-. Dialah
yang berhak memberikan berkah
kepada sesuatu, bukan
makhluk !!! Allah -Azza wa Jalla-
berfirman,
"Maha Berkah Allah yang telah
menurunkan Al Furqaan (Al
Quran) kepada hamba-Nya, agar
dia menjadi pemberi peringatan
kepada seluruh alam".(QS. Al-
Furqon : 1)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala-
berfirman tentang Nabi Ibrahim,
"Kami limpahkan keberkatan
atasnya dan atas Ishaq. Dan
diantara anak cucunya ada yang
berbuat baik dan ada (pula)
yang zalim terhadap dirinya
sendiri dengan nyata".(QS.
Ash-Shooffat : 113)
Allah Robbul alamin berfirman,
"Dan Dia menjadikan aku seorang
yang diberkati di mana saja
Aku berada, dan dia
memerintahkan kepadaku
(mendirikan) shalat dan
(menunaikan) zakat selama aku
hidup". (QS. Maryam : 31)
Tiga ayat di atas adalah dalil
qoth’iy yang menunjukkan bahwa
yang memberikan berkah
(kebaikan yang banyak) kepada
makhluk, hanyalah Allah -
AzzawaJalla-, bukan makhluk.
Ayat-ayat mulia ini merupakan
bantahan keras atas para kiyai
dan anre guru (sebutan kiyai di
Sulsel) yang mengajarkan kepada
para muridnya untuk mencari
berkah dari sang kiyai saat
mereka berjabat tangan dengan
si kiyai atau menyentuh
badannya.
Ketahuilah bahwa seseorang tak
boleh menetapkan adanya
berkah pada sesuatu, kecuali
berdasarkan dalil dari Al-Kitab
dan As-Sunnah. Adapun kiyai,
maka tak ada dalil yang
menunjukkan adanya berkah
pada tangan dan tubuh mereka.
Jika ada yang menetapkannya
pada si kiyai, maka ia adalah
seorang pendusta lagi menyalahi
petunjuk wahyu.
Ngalap berkah dari sesuatu yang
tidak diperintahkan dan tidak
dibolehkan oleh Allah merupakan
kebiasaan kaum musyrikin pada
berhala-berhala mereka. Kaum
musyrikin dahulu, mereka
mencari berkah pada Laata,
Uzza, Manaat, dan lainnya.
Allah -Ta’ala- berfirman
menyinggung sembahan-
sembahan batil yang biasa
diharapkan berkahnya oleh
orang-orang Quraisy,
Maka apakah patut kamu (hai
orang-orang musyrik)
menganggap Laata dan Uzza,
serta Manat yang ketiga, yang
paling terkemudian (sebagai anak
perempuan Allah)? Apakah
(patut) untuk kamu (anak) laki-
laki dan untuk Allah (anak)
perempuan? Yang demikian itu
tentulah suatu pembagian yang
tidak adil. Itu tidak lain hanyalah
nama-nama yang kamu dan
bapak-bapak kamu
mengadakannya; Allah tidak
menurunkan suatu
keteranganpun untuk
(menyembah)nya. mereka tidak
lain hanyalah mengikuti
sangkaan-sangkaan, dan apa
yang diingini oleh hawa nafsu
mereka. Dan sesungguhnya telah
datang petunjuk kepada mereka
dari Tuhan mereka". (QS. An-
Najm : 19-23)
Tahukah kalian siapakah ketiga
sembahan-sembahan batil ini??!
Silakan dengar jawabannya dari
pemaparan Al-Imam Ibnu
Katsir -rahimahullah- dalam
Tafsir-nya, "Laata adalah
sebuah batu putih yang terukir.
Di atasnya terdapat sebuah
rumah (bangunan) yang memiliki
kelambu dan penjaga (security).
Di sekitarnya terdapat
pekarangan yang diagungkan
oleh penduduk Tha’if, yaitu suku
Tsaqif, dan orang-orang yang
mengikuti mereka. Mereka
membangga-banggakan Laata
atas suku lain di antara suku-
suku Arab setelah Quraisy".
[Lihat Tafsir Al-Qur'an
Al-Azhim (7/455)]
Sebagian ulama ada yang
menyatakan bahwa Laata adalah
kuburan seorang laki-laki yang
dahulu menumbuk gandum untuk
para jama’ah haji di zaman
jahiliyah. Ibnu Abbas -
radhiyallahuanhuma- berkata,
كَانَ يَلُتّ السَّوِيق عَلَى
الْحَجَر فَلَا يَشْرَب مِنْهُ أَحَد
إِلَّا سَمِنَ ، فَعَبَدُوهُ
"Laata adalah seorang laki-laki
yang biasa menumbuk gandum di
atas batu. Tak ada seorang pun
yang minum darinya, kecuali ia
akan menjadi gemuk. Akhirnya,
merekapun menyembah Laata".
[HR. Ibnu Abi Hatim sebagaimana
yang disebutkan oleh Al-Hafizh
dalam Fathul Bari (8/612)]
Dua pendapat ini tidaklah
bertentangan, sebab orang yang
menyatakan bahwa Laata adalah
sebuah batu putih tidaklah
menyelisihi orang yang
menyatakan Laata adalah kubur
atau penghuninya. Boleh jadi,
batu itu adalah batu nisan yang
diletakkan di atas kubur
sehingga jika seseorang
mengagungkan batu itu, maka
secara tak langsung ia telah
mengagungkan penghuninya.
[Lihat Taisir Al-Aziz Al-
Hamid (hal. 137) oleh Syaikh
Sulaiman bin Abdillah At-Tamimiy,
cet. Alam Al-Kutub, dengan
tahqiq Muhammad Aiman bin
Abdillah As-Salafiy, 1419 H]
Sedang Manat adalah sebuah
arca milik suku Hudzail dan
Khuza’ah di daerah Qudaid yang
terletak antara Makkah dan
Madinah [Lihat An-Nihayah
fi Ghorib Al-Hadits
(4/808) oleh Ibnul Al-Atsir]
Adapun Uzza, kata Ibnu
Jarir -rahimahullah-, "Uzza
adalah sebuah pohon. Di atasnya
terdapat bangunan dan kelambu
yang terletak di daerah Nakhlah
antara Makkah, dan Tha’if .
Dahulu orang-orang Quraisy
mengagungkannya". [Lihat
Jami' Al-Bayan fi Tafsir
Ayil Qur'an ()]
Pohon sembahan inilah yang
telah ditebas oleh Panglima Islam,
Kholid bin Al-Walid atas perintah
Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam-,
Dari Abu Ath-Thufail, ia berkata,
لمَاَّ فَتَحَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَكَّةَ بَعَثَ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيْدِ
إِلَى نَخْلَةَ وَكَانَتْ بِهَا
الْعُزَّى, فَأَتَاهَا خَالِدٌ وَكَانَتْ
عَلَى ثَلاَثِ سَمُرَاتٍ, فَقَطَعَ
السَّمُرَاتِ وَهَدَمَ الْبَيْتَ الَّذِيْ
كَانَ عَلَيْهَا, ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَأَخْبَرَهُ, فَقَالَ: اِرْجِعْ فَإِنَّكَ
لَمْ تَصْنَعْ شَيْئًا, فَرَجَعَ
خَالِدٌ, فَلَمَّا أَبْصَرَتْ بِهِ
السَّدَنَةُ وَهُمْ حَجَبَتُهَا أَمْعَنُوْا
فِي الْجَبَلِ وَهُمْ يَقُوْلُوْنَ: يَا
عُزَّى, فَأَتَاهَا خَالِدٌ, فَإِذَا هِيَ
امْرَأَةٌ عُرْيَانَةٌ نَاشِرَةٌ شَعْرَهَا
تَحْتَفِنُ التُّرَابَ عَلَى رَأْسِهَا,
فَعَمَّمَهَا بِالسَّيْفِ حَتَّى
قَتَلَهَا, ثُمَّ رَجَعَ إِلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ: تِلْكَ الْعُزَّى
"Tatkala Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- telah merebut
kota Makkah, maka beliau
mengutus Kholid bin Al-Walid ke
daerah Nakhlah, sedang di sana
terdapat Uzza. Kholid pun
mendatanginya, dan Uzza berupa
tiga pohon berduri. Kemudian
Kholid menebas pohon-pohon
tersebut, dan merobohkan
bangunan yang terdapat di
atasnya. Lalu ia mendatangi Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam-
seraya mengabarkan hal itu
kepada beliau. Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
"Kembalilah, karena engkau
belum berbuat apa-apa". Kholid
pun kembali. Tatkala ia dilihat
para security (para penjaga)
Uzza, maka mereka mengintai di
atas gunung seraya mereka
berkata, "Wahai Uzza". Kemudian
Kholid mendatangi Uzza, tiba-
tiba ada seorang wanita
telanjang yang mengurai
rambutnya sambil menaburkan
debu di atas kepalanya. Akhirnya
Kholid menebas wanita itu
dengan pedang sehingga ia
membunuhnya. Beliaupun kembali
ke Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- seraya mengabarkan hal
itu. Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- bersabda, "Itulah Uzza".
[HR. An-Nasa'iy dalam As-
Sunan Al-Kubro (6/474/no.
11547), dan Abu Ya'laa Al-
Maushiliy dalam Al-Musnad
(no. 902). Hadits ini di-hasan-kan
oleh Syaikh Ali bin Sinan dalam
Takhrij Fath Al-Majid
(no. 103)]
Hadits ini merupakan dalil bahwa
jika ada sebuah pohon yang
dikeramatkan, disembah, dan
diharapkan berkah atau
kebaikannya, maka diwajibkan
bagi penguasa muslim untuk
menebangnya demi menutup
pintu kesyirikan. Karena
mengagungkan suatu pohon dan
mengkeramatkannya sehingga
diharapkan berkahnya
merupakan kebiasaan jahiliyyah
yang telah lama dilakukan
orang-orang Yahudi, dan kaum
paganisme alias penyembah
berhala.
Inilah yang pernah diceritakan
oleh Abu Waqid Al-Laitsiy -
radhiyallahu anhu-,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى
حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ
لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ
أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا
أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ
اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا
لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ
قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا
كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ
"Tatkala Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- keluar menuju
Hunain, maka beliau melewati
sebuah pohon milik kaum
musyrikin yang disebut dengan
"Dzatu Anwath (Yang memiliki
gantungan)". Mereka
menggantungkan padanya
senjata-senjata mereka. Mereka
pun berkata, "Wahai Rasulullah,
buatkanlah untuk kami Dzatu
Anwath sebagaimana mereka
memiliki Dzatu Anwath". Nabi -
Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda, "Subhanallah, Ini
bagaikan sesuatu yang pernah
diucapkan kaumnya Musa,
"Buatlah untuk kami sebuah
Tuhan (berhala) sebagaimana
mereka mempunyai beberapa
tuhan (berhala)". (QS. Al-A’raaf :
138)
Demi (Allah)Yang jiwaku ada di
tangan-Nya, kalian akan benar-
benar mengikuti jalan hidupnya
orang-orang sebelum kalian". [HR.
At-Tirmidziy dalam As-Sunan
(2180), Ahmad dalam Al-
Musnad (5/218), dan lainnya.
Hadits ini di-shohih-kan oleh
Syaikh Al-Albaniy dalam Jilbab
Al-Mar'ah Al-Muslimah
(hal. 202)]
Seorang ulama Andalusia, Al-
Imam Abu Bakr
Muhammad bin Al-
Walid Al-Fihriy (wft 530 H)
yang dikenal dengan "Ath-
Thurthusiy" -rahimahullah-
berkata saat mengomentari
hadits di atas, "Perhatikanlah –
semoga Allah merahmati kalian-,
dimanapun kalian temukan
sebuah pohon bidara atau pohon
apa saja yang didatangi oleh
manusia, dan mereka
mengagungkan keberadaan
pohon itu, mengharapkan
kesembuhan darinya, mereka
menggantungkan padanya paku-
paku dan kain-kain, maka pohon
itu adalah Dzatu Anwath. Karena
itu, tebanglah pohon itu". [Lihat
Kitab Al-Hawadits wa
Al-Bida' (hal. 38-39) oleh
Ath-Thurthusiy, dengan tahqiq
Ali bin Hasan Al-Halabiy, cet. Dar
Ibn Al-Jauziy, 1419 H]
Syaikhul Islam Ahmad
Ibnu Abdil Halim An-
Numairiy -rahimahullah-
berkata, "Barangsiapa yang
mendatangi suatu tempat
sedang ia mengharapkan
kebaikannya dengan
mendatanginya, tapi syari’at
tidak menganjurkannya hal itu,
maka hal itu termasuk
kemungkaran. Sebagiannya lebih
parah dari yang lainnya, sama
saja apakah tempat itu berupa
pohon atau mata air, saluran
air, gunung, atau gua; sama saja
apakah ia mendatanginya untuk
sholat di sisinya, berdoa di
sisinya, atau membaca Al-Qur’an
di sisinya, berdzikir kepada Allah
di sisinya, beribadah (tirakatan)
di sisinya, dimana ia telah
mengkhususkan tempat itu
dengan sejenis ibadah yang
tempat itu tak pernah
disyari’atkan untuk dikhususkan
dengan suatu ibadah, baik
tempat itu sendiri atau
sejenisnya". [Lihat Iqtidho
Ash-Shiroth Al-
Mustaqim (2/118)]
Jadi, mendatangi suatu tempat,
baik itu berupa pohon, kuburan,
bangunan, dan lainnya dengan
niat mencari berkah dan
kebaikan merupakan kebiasaan
jahiliyah yang harus ditinggalkan
seorang muslim, yakni seorang
muslim yang mau menapaki jalan
dan petunjuk Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- dan para
sahabatnya.
Sumber : Buletin Jum’at At-
Tauhid edisi 128 Tahun II.
Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.
Alamat : Pesantren Tanwirus
Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58,
Kel. Borong Loe, Kec. Bonto
Marannu, Gowa-Sulsel. HP :
08124173512 (a/n Ust. Abu
Fa’izah). Pimpinan Redaksi/
Penanggung Jawab : Ust. Abu
Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.
Dewan Redaksi : Santri Ma’had
Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/
Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul
Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu
Dzikro. Untuk berlangganan/
pemesanan hubungi : Ilham Al-
Atsary (085255974201). (infaq
Rp. 200,-/exp)