Home | Back
Tauhid Rububiah
Al Ustadz Abu Muawiah

Tauhid Ar-Rububiah
Pada pembahasan-pembahasan yang telah berlalu, kami telah berbicara tentang iman dan definisinya, bahwa dia adalah keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan, amalan dengan anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Juga telah kami jelaskan mengenai apa itu al-aqidah al-islamiah, yang Allah tidak akan menerima aqidah lain selainnya, dan juga telah dijelaskan bahwa pokok pembahasan terbesar dalam al- aqidah al-islamiah adalah seputar rukun iman yang enam, yaitu: Keimanan kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kepada seluruh kitab-kitabNya, kepada para rasul-Nya, kepada hari kiamat serta keimanan kepada taqdir yang baik dan yang buruk. Maka pada edisi kali ini dan seterusnya -insya Allah-, kami akan mulai memaparkan penjelasan tentang rukun iman yang enam secara teratur dan terperinci, diikuti dengan pembahasan lain yang berkenaan dengannya.
Rukun iman yang pertama adalah beriman kepada Allah Ta'ala. Keimanan ini mengandung empat jenis penetapan, yaitu: Penetapan akan adanya Allah, penetapan tauhid rububiyah, penetapan tauhid uluhiyah dan penetapan tauhid asma` wash shifat.
Adapun penetapan akan adanya Allah, maka dalil-dalilnya sangatlah jelas dan tidak ada yang mengingkari adanya Allah kecuali orang yang sangat dungu lagi pendusta yang besar. Bagaimana tidak, Iblis sebagai makhluk ghaib yang paling kafir dan Fir'aun sebagai manusia yang paling kafir, keduanya telah mengakui eksistensi Allah bahkan mereka berdua mengakui bahwa tidak ada Rabb (Tuhan) selain Allah. Iblis berkata, "Wahai Rabbku, berilah tangguh kepadaku sampai hari kebangkitan." Sementara Fir'aun sendiri telah berkata ketika akan binasa, "Aku beriman bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali sembahan yang diimani oleh Bani Israil."
Karenanyalah kami merasa - wallahu a'lam- tidak perlu menjelaskan masalah ini lebih lanjut, karena sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair, "Wahai betapa mengherankannya, bagaimana bisa sang Sembahan itu dimaksiati atau bagaimana bisa ada orang yang mengingkari eksistensi-Nya. Padahal pada segala sesuatu terdapat tanda, yang menunjukkan bahwa Dia itu Maha Esa."
Adapun tauhid rububiah, maka juga telah kami singgung sedikit tentangnya. Dan berikut keterangan tambahan tentangnya:
Yang dimaksud dengan tauhid rububiah adalah keyakinan bahwa hanya Dialah yang bersendirian dalam penciptaan, menguasaan dan pengaturan seluruh alam semesta. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia tinggi di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam". (QS. Al-A'raf : 54)
Allah -Ta'ala- berfirman, "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki". (QS. Asy- Syura : 49)
Dan Allah -Ta'ala- berfirman, "Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. Al-Hadid: 2)
Kaum Musyrikin Tidak Menyelisihi Dalam Tauhid Rububiyyah
Tauhid inilah yang terpatri di dalam jiwa-jiwa manusia, tidak ada seorangpun dari manusia yang menyelisihi di dalamnya baik yang mukmin maupun yang kafir. Sebagaimana firman Allah Ta'ala tentang orang-orang kafir:
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab : "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui". (QS. Luqman: 25)
Dan Allah Ta'ala juga berfirman tentang mereka:
"Dan tidaklah sebahagian besar dari mereka beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)". (QS. Yusuf : 106)
Mujahid rahimahullah berkata, "Iman mereka (adalah) ucapan mereka : "Allah pencipta kami, yang memberi rezki kepada kami dan yang mematikan kami", maka ini adalah iman bersamaan dengan kesyirikan (berupa) penyembahan mereka kepada selain-Nya"
Keyakinan Kaum Musyrikin Bahwa Sembahan- Sembahan Mereka (Hanya) Dijadikan Wasilah Kepada Allah, Bukannya Mereka Yang Mencipta dan Yang Memberi Rezki
Kaum musyrikin tidak pernah meyakini bahwa sembahan- sembahan mereka menjadi sekutu Allah dalam penciptaan, bahkan mereka meyakini bahwa hal itu (penciptaan) hanya milik Allah semata, dan (mereka meyakini) bahwa sembahan- sembahan mereka (hanya) dijadikan sebagai wasilah kepada Allah dan dijadikan sebagai pemberi syafa'at di sisi Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar". (QS. Az-Zumar : 3)
Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah: "Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu- sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka"". (QS. Fathir : 40)
Dan Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang musyrik Quraisy:
"Dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan- sembahan kami karena seorang penyair gila?"". (QS. Ash-Shaffat : 36)
Dan Allah Ta'ala berfirman tentang mereka:
"Mengapa dia (Muhammad) menjadikan sembahan-sembahan itu menjadi Sembahan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar- benar suatu hal yang sangat mengherankan". (QS. Shad : 5)
Tidaklah Allah Ta'ala menjelaskan tauhid (rububiah) ini kecuali untuk menetapkan dan menguatkannya dan untuk berdalil dengannya akan wajibnya tauhid Uluhiyah. Karena tauhid rububiyyah mengharuskan tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa". (QS. Al-Baqarah : 21)
Allah berfirman:
"Dia menciptakan kalian dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kalian dalam perut ibu kalian, kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Rabb kalian, Rabb Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada sembahan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kalian dapat dipalingkan?". (QS. Az- Zumar : 6)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka`bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan". (QS. Quraisy : 1-4)
Maka Allah Ta'ala menyebutkan bahwasanya Dia sajalah pencipta dan pemberi rezki kepada mereka, dan hal ini dari perkara yang mereka (kaum musyrikin) tidak ragu di dalamnya, dan Dia (Allah Ta'ala) menjadikan hal tersebut (pengakuan mereka akan rububiyah Allah) sebagai hujjah atas mereka akan wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih- Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?" Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon- pohonnya? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung- gunung untuk (mengkokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)". (QS. An-Naml : 59-63)
Maka dalam ayat-ayat ini seluruhnya, Allah Ta'ala mengingkari orang-orang musyrikin -yang mereka ini mengakui bahwa hanya Dia (Allah) Ta'ala saja pencipta langit-langit dan bumi dan bahwa hanya Dia saja yang Maha Memberi manfaat dan Memberi mudharat- bahwa pengakuan ini (yakni terhadap rububiyah Allah) tidaklah bermanfaat untuk mereka tatkala mereka menjadikan bersama Allah sembahan yang lain, yang mereka berdo'a kepadanya sebagaimana mereka berdo'a kepada Allah.
Dan inilah kontradiksi yang sebenarnya yang menyelisihi syari'at dan akal, karena Siapa yang bersendirian dalam semua pengaturan berupa penciptaan, pemberian rezeki, menghidupkan dan mematikan maka (Dialah) yang berhak untuk diesakan dengan semua bentuk-bentuk ketaatan.
Oleh karena itulah Allah Ta'ala mengingkari mereka dengan firmanNya, "Apakah ada sembahan (lain) bersama Allah?!". (QS. An-Naml : 60 , 61 , 62 , 63 dan 64)
Allah Ta'ala tidak berfirman: "Apakah ada pencipta (lain) bersama Allah?!", karena mereka tidak mengingkari bahwa hanya Allah pencipta semesta alam dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah Ta'ala menjelaskan kebatilan kesyirikan dalam rububiyah dan bahwasanya seandainya hal itu terjadi (yakni ada Tuhan selain Allah) maka akan rusaklah langit-langit dan bumi, dan ini juga bisa dipahami dengan akal secara langsung, Allah Ta'ala berfirman :
"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu". (QS. Al- Mukminun : 91)
[Rujukan: Al-Mu'taqad Ash-Shahih karya Asy-Syaikh Abdussalam Barjis -rahimahullah-]

http://al-atsariyyah.com/?p=662

Tauhid Al-Uluhiah

Penulis Al-Ustadz Abu Muawiah

Tauhid Al-Uluhiah
Termasuk di antara keyakinan Ahlis Sunnah, mereka menunggalkan Allah -Ta'ala- dalam ubudiyyah (penyembahan). Mereka tidak menyembah sembahan yang lain bersama Allah, bahkan mereka mengarahkan semua ketaatan yang Allah perintahkan -baik perintah wajib maupun yang sunnah- hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Maka mereka tidak bersujud kecuali kepada Allah, tidak berthawaf kecuali untuk Allah di rumah yang tua (Ka'bah), tidak menyembelih kecuali untuk Allah, tidak bernadzar kecuali untuk Allah, tidak bersumpah kecuali dengan menggunakan nama Allah, tidak bertawakkal kecuali hanya kepada Allah dan tidak berdo'a kecuali kepada Allah. Inilah yang dikenal dengan nama tauhid al-uluhiyah.
Allah -Ta'ala- berfirman, "Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan sesuatupun". (QS. An- Nisa` : 36 ) Allah berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu". (QS. Adz- Dzariyat : 56) Makna "menyembah kepadaKu" yaitu mentauhidkan Aku.
Lawan Dari Tauhid Adalah Kesyirikan Kepada Allah
Lawannya (tauhid) adalah kesyirikan kepada Allah - semoga Allah menjauhkan kita darinya-, dan dia adalah dosa terbesar yang Allah dimaksiati dengannya. Allah -Ta'ala- berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". (QS. An-Nisa` : 48)
Allah -Ta'ala- berfirman, "Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran padanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar". (QS. Luqman : 13)
Allah -Ta'ala- menjelaskan bahwa kesyirikan itu bisa menghapuskan seluruh amalan dan mengeluarkan (pelakunya) dari agama. Allah -Ta'ala- berfirman, "Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan". (QS. Al-An'am : 88)
Allah -Ta'ala- berfirman, "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada Nabi-Nabi yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang- orang yang merugi". (QS. Az- Zumar : 65)
Di dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah -radhiallahu 'anhu-, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak berbuat kesyirikan bersama-Nya sedikitpun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang menjumpaiNya dalam keadaan berbuat kesyirikan bersama-Nya dengan sesuatu apapun, maka ia akan masuk ke dalam neraka".
Siapakah Orang Musyrik Itu?
Maka barangsiapa yang memalingkan satu bentuk di antara bentuk-bentuk ibadah kepada selain Allah, maka dia adalah orang yang musyrik lagi kafir.
Do'a tidak (Boleh) Diberikan Kecuali Hanya Kepada Allah
Do'a merupakan ibadah yang Allah perintahkan. Karenanya barangsiapa yang berdo'a hanya kepada Allah semata maka dia adalah muwahhid (orang yang bertauhid), dan barangsiapa yang berdo'a kepada selain Allah maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.
Allah -Ta'ala- berfirman, "Dan janganlah kamu menyembah apa- apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang dzalim". (QS. Yunus : 106)
Allah -Ta'ala- berfirman, "Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kalian menyembah seseorangpun di samping (menyembah) Allah." (QS. Al-Jin : 18)
Allah -Ta'ala- berfirman, "Hanya bagi Allahlah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala- berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka". (QS. Ar- R'ad : 14)
Allah -Ta'ala- berfirman, "Maka janganlah kalian menyeru (menyembah) sembahan yang lain di samping Allah yang menyebabkan kalian termasuk orang-orang yang diadzab". (QS. Asy-Syu'ara` : 213)
Allah -Ta'ala- berfirman, "Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi"?, niscaya mereka menjawab : "Allah". Katakanlah : "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?, katakanlah : "Cukuplah Allah bagiku". kepadaNyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri". (QS. Az-Zumar : 38)
Allah -Ta'ala- berfirman, "Katakanlah terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah, perlihatkan kepadaku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam penciptaan langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Al-Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang orang dahulu) jika kalian adalah orang- orang yang benar". Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan- sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do`a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do`a mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (QS. Al-Ahqaf : 4-6)
Telah tsabit (shohih) dalam As- Sunan dari An-Nu'man bin Basyir -radhiallahu 'anhu- beliau berkata: Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda, "Do'a adalah ibadah".
Permusuhan Antara Para Rasul dan Kaumnya Terjadi Karena Tauhid Ini
Tauhid ini -tauhid Uluhiyah-, karenanyalah terjadi permusuhan antara para Rasul dengan ummatnya
Para Rasul Diutus Karena Tauhid Ini
Tauhid inilah yang para Rasul diutus guna menjelaskannya dan berdakwah kepadanya. Kitab- kitab diturunkan untuk menegaskannya, menjelaskannya dan membelanya sebagaimana firman Allah -Ta'ala-, "Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut". (QS. An-Nahl : 36)
Allah -Ta'ala- berfirman, "Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku". (QS. An-Nahl : 2)
Para Rasul memulai dalam mengajak kaumnya kepada Allah dengan tauhid ini. Maka setiap Rasul berkata kepada kaumnya, "Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sembahan bagimu selain- Nya". (QS. Al-A'raf : 59)
Hal ini diucapkan oleh Nuh, Hud, Sholih, Syu'aib dan setiap Rasul - sholawat Allah dan salamnya atas mereka seluruhnya-.
Allah -Ta'ala- berfirman tentang Nabi-Nya, Yusuf -'alaihis salam- (bahwa beliau berkata), "Hai kedua penghuni penjara manakah yang baik, Tuhan- Tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?. Kalian tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kalian dan nenek moyangmu membuat- buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS. Yusuf : 39-40)
Orang-Orang Musyrik tidak Mempunyai Sedikitpun Argumen dalam Kesyirikan Mereka
Orang-orang musyrik tidak mempunyai sedikitpun argumen dalam kesyirikan mereka, baik dari sisi akal sehat, maupun dalil naqli dari para Rasul.
Allah -Ta'ala- berfirman, "Dan tanyakanlah kepada Rasul-Rasul kami yang telah kami utus sebelum kamu "adakah kami menentukan sembahan- sembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?". (QS. Az-Zukhruf : 45)
Maknanya: Sesungguhnya tidaklah didapati seorangpun dari para Rasul yang mengajak untuk menyembah sesembahan (lain) bersama Allah, bahkan seluruhnya -dari (Rasul) yang pertama sampai yang terakhir- mengajak untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya.
Allah -'Azza wa Jalla- mengingatkan dalil aqli yang membatalkan kesyirikan orang- orang musyrik. Allah -Ta'ala- berfirman, "Katakanlah terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah; atau perlihatkan kepadaku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam penciptaan(Nya) langit?. Bawahlah kepadaku kitab yang sebelum (Al-Qur'an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kalian orang-orang yang benar". (QS. Al-Ahqaf : 4)
Maka ini adalah dalil aqli yang menetapkan bahwa segala sesuatu selain Allah, maka penyembahan kepadanya adalah (penyembahan) yang batil. Mereka (selain Allah itu) sama sekali tidak memiliki peran dalam menciptakan sesuatupun, akan tetapi hanya Allah semata yang bersendirian dengannya. Kalau begitu, kenapa mereka disembah?! Kemudian Allah meniadakan jika orang-orang musyrik (bahwa mereka) memiliki dalil naql -dalam perkara yang mereka lakukan berupa kesyirikan- dari kitab-kitab suci yang diturunkan atau dari para Rasul yang terutus. Maka nampak dengan jelas tidak adanya argumen bagi kaum musyrikin secara mutlak. Akhirnya,mereka menjadi orang- orang yang kekal di dalam neraka Jahannam yang merupakan sejelek-jelek tempat kembali.
Dari semua penjelasan yang telah berlalu, diketahuilah bahwa tauhid ini adalah kewajiban yang paling pertama dan perkara yang paling urgen. Dialah (agama) yang tak akan diterima oleh Allah dari seorangpun agama selainnya.
[Dinukil secara ringkas dari kitab Al-Mu'taqad Ash-Shahih karya Asy-Syaikh Abdussalam Barjis, bab Tauhid Al-Uluhiah]

http://al-atsariyyah.com/?p=683
Diposkan 6 Mei 2009

Disneyland 1972 Love the old s