Duck hunt
Home page||artikel terkait

Idahram: Tentang
Julukan Wahabi &
Penamaan Salafi
salafi-antara-tuduhan-dan-
kenyataan
MENGKRITISI ISTILAH WAHABI
Kata Wahabi, Wahabisme (
ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻲ ) adalah sebuah kata
yang dimunculkan oleh orang-
orang yang tidak menyukai
dakwah yang diserukan oleh
Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab rahimahullah. Beliau
sendiri, sebagai orang yang
menyerukan dakwahnya,
demikian pula murid-murid
beliau, tidak pernah menamakan
diri dengan Wahabi.
Ini sekaligus sebagai bantahan
terhadap saudara Idahram
yang taklid buta kepada Al-
Buthi (tokoh Ikhwanul Muslimin)
yang menuduh bahwa, nama
wahabi pada akhirnya
diganti menjadi salafi
setelah mengalami
kegagalan. (Sejarah
Berdarah…, hal. 27).
Padahal kenyataannya, Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab
rahimahullah memang tidak
pernah menamakan diri dengan
wahabi, terlebih dari sisi bahasa
dan istilah penamaan wahabi
yang tidak tepat. Seorang
Ulama Al-Azhar Mesir, Syaikh
Muhammad Hamid Al-Faqi
rahimahullah berkata,
“Penisbatan nama wahabi
kepada beliau salah
menurut bahasa Arab,
yang benar penisbatannya
adalah Muhammadiyyah
(bukan wahabiyah), karena
nama beliau Muhammad
bukan Abdul
Wahhab.” (Lihat Majmu’atur
Rosaail At-Taujihat Al-
Islamiyah Li Ishlahil Fardi
wal Mujtama’ (3/240) )
Lalu siapakah yang
pertama memunculkan
penamaan ini?
Sejarah mencatat, istilah
wahabi pertama kali disematkan
kepada dakwah Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab
rahimahullah oleh penjajah
Inggris, ketika mereka
mendapatkan perlawanan yang
keras dari para mujahid India
yang terpengaruh oleh dakwah
Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab rahimahullah.
Fakta sejarah ini diungkapkan
oleh Syaikh Muhammad bin
Manzhur An-Nu’mani
dalam Di’ayaat
Mukatstsafah Diddu Asy-
Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab , hal 105-106,
sebagaimana dalam Da’awa Al-
Munawiin , hal. 310. Fakta ini
juga merupakan bukti
permusuhan Inggris terhadap
dakwah Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab rahimahullah.
Penjajah Inggris-lah yang
pertama menamakan ulama
Doeband di India dengan Wahabi
karena kerasnya pertentangan
mereka terhadap penjajah dan
pengaruh dakwah Syaikh
Muhammad bin abdul Wahhab
rahimahullah pada mujahidin di
India. Fenomena ini juga
sekaligus bantahan terhadap
tuduhan saudara Idahram
bahwa ulama pengikut Wahabi
tidak pernah berjihad melawan
penjajahan Barat Yahudi dan
Kristen (pada hal. 68).
Walhamdulillah, penjajahan Barat
tidak
pernah benar-benar
memasuki daratan Najd,
Makkah, Madinah dan
sekitarnya yang dikuasai Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab
rahimahullah dan pengikut-
pengikutnya. Sedang pada
zaman beliau, kesyirikan dan
bid’ah benar-benar tersebar di
wilayahnya, beliau pun sibuk
memberantas kesyirikan dan
bid’ah, karena hal itu akan
menghalangi kaum muslimin dari
pertolongan Allah Subhanahu
wa Ta’ala, maka bagaimana
mungkin mengajak kaum
muslimin berjihad?!
Dan jihad itu sendiri hukumnya
bisa fardhu ‘ain dan bisa
pula fardhu kifayah. Di antara
bentuk jihad yang fardhu
‘ainadalah kewajiban jihad bagi
penduduk suatu negeri apabila
musuh telah masuk di wilayah
mereka, sedangkan bagi kaum
muslimin di wilayah lainnya
hukumnya fardhu kifayah. Maka
jelaslah tuduhan tidak berjihad
melawan Barat hanya sekedar
mencari-cari kesalahan tanpa
ada penelitian yang mendalam.
Meskipun kenyataan yang
sebenarnya, pada tahun 1806
H, orang-orang Qawasim yang
telah mengikuti dakwah Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab
rahimahullah sudah pernah
menyerang bahkan
mengalahkan serta mengusir
pasukan Inggris di perairan
Teluk. [Lihat kitab Al-Jadidah
fi Tarikh Al-Utsmaniyyin ,
hal. 158 dan Tarikh Al-Ahsaa
As-Siyasi, Dr. Muhammad
‘Araabi, hal. 42-43, sebagaimana
dalam Ad-Daulah Al-
Utsmaniyyah, Awamilun
Nuyudh wa Asbaabus
Suquth , karya Ash-
Shalabi, softcopy dari http://
www.slaaby.com].
Maka fakta ini juga sebagai
bantahan terhadap tuduhan
dusta saudara Idahram bahwa
Dir’iyyah bekerjasama dengan
Inggris untuk melemahkan
khilafah (pada hal. 120). Justru
Inggris sangat senang dengan
jatuhnya Dir’iyyah (ibukota
Saudi yang pertama) ke tangan
Turki ketika Ibrahim Basya
menyerang Dir’iyyah [lihat fakta
sejarah ini dalam kitab Dirosat
fi Tarikh Al-Khalij Al-‘Arabi
Al-Hadits wal
Mu’ashir, 1/198, sebagaimana
dalam Ad-Daulah Al-
Utsmaniyyah, Awamilun
Nuhudh wa Asbaabus
Suquth , karya Ash-
Shalabi, softcopy dari http://
www.slaaby.com]. Inilah
sesungguhnya sebab terbesar
jatuhnya khilafah Turki Utsmani,
yaitu kejahatan mereka
menyerang ahlut tauhid was
sunnah.
Istilah wahabi inipun, segera
dijadikan senjata oleh para
pelaku bid’ah dan syirik yang
gerah terhadap dakwah tauhid
dan sunnah yang diserukan
Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab rahimahullah, tujuan
mereka tidak lain untuk
menjatuhkan dakwah beliau.
Syaikh Mas’ud An-Nadwi
rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya di antara dusta
yang paling jelas atas dakwah
Syaikhul Islam Muhammad bin
Abdul Wahhab rahimahullah
adalah penamaan wahabi. Akan
tetapi, orang-orang yang
memiliki kepentingan, telah
berhasil mencitrakan penamaan
wahabi ini seakan suatu agama
di luar Islam. Orang-orang
Inggris, Turki dan Mesir (ketika
itu) menjadikan istilah wahabi
sebagai momok yang
menakutkan.
Setiap kali bangkit satu
gerakan (perlawanan) Islam di
dunia Islam pada dua abad yang
lalu, dan orang-orang Eropa
melihatnya sebagai sebuah
ancaman atas kepentingan
mereka, maka dengan segera
mereka kait-kaitkan gerakan
tersebut dengan wahabi yang
berasal dari Najd.”[1]
Istilah wahabi ini memang di
telinga orang awam lebih dapat
mencitrakan kejelekan
dibandingkan istilah muhammadi,
walaupun hakikatnya
istilah muhammadi yang lebih
tepat, karena nama Syaikh
adalah Muhammad sama
dengan Nabi kita yang mulia,
sedangkan Abdul Wahhab adalah
nama
bapaknya dan Wahhab
( ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ) itu sendiri adalah
nama Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang agung.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ
ﺇِﻧَّﻚَ , ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦ ﻟَّﺪُﻧﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً
ﺃَﻧﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ
“(Mereka berdoa): Ya Rabb
Kami, janganlah Engkau jadikan
hati kami condong kepada
kesesatan sesudah Engkau beri
petunjuk kepada Kami, dan
karuniakanlah kepada kami
rahmat dari sisi Engkau; karena
Sesungguhnya Engkau-lah Maha
pemberi (karunia).” ( QS. Ali-
Imran: 8 )
ﺃَﻡْ ﻋِﻨﺪَﻫُﻢْ ﺧَﺰَﺍﺋِﻦُ ﺭَﺣْﻤَﺔِ ﺭَﺑِّﻚَ
ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰِ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏِ
“Atau apakah mereka itu
mempunyai perbendaharaan
rahmat Rabbmu yang Maha
Perkasa lagi Maha
pemberi?”( QS. Shaad: 9 )
ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺏِّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﻫَﺐْ ﻟِﻲ ﻣُﻠْﻜًﺎ ﻟَّﺎ
ﻳَﻨﺒَﻐِﻲ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﻣِّﻦ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧﺖَ
ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ
“Ia berkata: Ya Rabbku,
ampunilah aku dan
anugerahkanlah kepadaku
kerajaan yang tidak dimiliki oleh
seorang juapun sesudahku,
sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Pemberi.” ( QS. Shaad:
35 )
Ayat-ayat di atas jelas, bahwa
Al-Wahhab adalah salah satu
nama Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang
berarti memberi[2]. Hanya
karena di kalangan orang awam
nama Allah Al-Wahhab kurang
begitu diketahui lalu dengan licik
dan
tanpa adab kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, mereka
gunakan namaNya untuk
memberi kesan buruk terhadap
dakwah Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab rahimahullah.
ﻭَﻣَﺎ ﻗَﺪَﺭُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﻖَّ ﻗَﺪْﺭِﻩِ
ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ﻗَﺒْﻀَﺘُﻪُ ﻳَﻮْﻡَ
ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕُ ﻣَﻄْﻮِﻳَّﺎﺕٌ
ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰٰ ﻋَﻤَّﺎ
ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ
“Dan mereka tidak
mengagungkan Allah dengan
pengagungan yang semestinya
padahal bumi seluruhnya dalam
genggamanNya pada hari
kiamat dan langit digulung
dengan tangan kananNya.Maha
Suci Dia dan Maha Tinggi Dia
dari apa yang mereka
persekutukan.” ( QS. Shaad:
67 )
Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil
Zainu rahimahullah berkata,
“Orang-orang itu telah terbiasa
menyebut istilah wahabi bagi
setiap orang yang menyelisihi
kebiasaan, keyakinan dan
bid’ah-bid’ah mereka. Meskipun
keyakinan-keyakinan mereka
itu rusak, menyelisihi Al-Qur’anul
Karim dan hadits-hadist
yang shahih, juga menyelisihi
dakwah kepada tauhid dan
ajakan untuk berdoa hanya
kepada Allah yang satu saja,
tidak kepada selain-Nya.
Aku pernah membacakan
kepada seorang syaikh (sufi),
hadits Ibnu Abbas radhiallahu
‘anhuma yang ada dalam Al-
Arba’in An-Nawawiyah , yaitu
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam,
ﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟْﺖَ ﻓَﺎﺳْﺄَﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺇِﺫَﺍ
ﺍﺳْﺘَﻌَﻨْﺖَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠﻪ
“Apabila kamu mau meminta
(doa) maka mintalah kepada
Allah.” ( HR. Al-Imam At-
Tirmidzi )[3]
Sangat mengagumkan
penjelasan Al-Imam An-Nawawi
rahimahullah ketika beliau
berkata,
‘Kemudian apabila hajat yang
diminta oleh seseorang itu
bukanlah suatu hajat yang bisa
dikabulkan oleh makhluk,
seperti meminta hidayah, ilmu,
kesembuhan penyakit dan
kesehatan, maka hendaklah
minta kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Memintanya kepada
makhluk dan bergantung
kepadanya adalah suatu yang
tercela.’
Maka aku katakan kepada
syaikh ini, bahwa hadits ini dan
penjelasan Al-Imam An-Nawawi
bermakna tidak boleh meminta
tolong (doa) kepada selain Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Maka Syaikh itu
berkata, ‘Bahkan boleh.’
Aku katakan, ‘Apa dalilmu?’
Dia pun marah dan berkata
dengan suara keras, ‘Sungguh
bibiku telah berdoa, wahai
Syaikh Sa’ad (padahal Syaikh
Sa’ad sudah dikubur di
masjidnya[4], dia minta tolong
(berdoa) kepada Syaikh Sa’ad),
Maka aku bertanya kepada
bibiku, ‘apakah Syaikh Sa’ad
bisa memberi manfaat
kepadamu?’
Bibiku berkata, ‘Aku berdoa
kepada Syaikh Sa’ad, lalu beliau
meneruskannya kepada Allah,
hingga menyembuhkan aku.’
Aku katakan kepada Syaikh
ini, ‘Sungguh engkau seorang
yang pintar, banyak membaca
buku, lalu kenapa engkau
mengambil aqidahmu dari bibimu
yang jahil?’
Dia berkata, ‘Engkau memiliki
pemikiran Wahabi, engkau pergi
melaksanakan umroh lalu
kembali dengan membawa buku-
buku Wahabi’.”[5]
Demikianlah, mereka
menamakan Wahabi terhadap
ajaran tauhid dan sunnah yang
menyelisihi kesyirikan dan bid’ah
mereka.
ﻣَّﺎ ﻟَﻬُﻢ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﻋِﻠْﻢٍ ﻭَﻟَﺎ ﻟِﺂﺑَﺎﺋِﻬِﻢْۚ
ﻛَﺒُﺮَﺕْ ﻛَﻠِﻤَﺔً ﺗَﺨْﺮُﺝُ ﻣِﻦْ ﺃَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْۚ
ﺇِﻥ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺇِﻟَّﺎ ﻛَﺬِﺑًﺎ
“Mereka sekali-kali tidak
mempunyai pengetahuan
tentang hal itu, begitu pula
nenek moyang mereka.
Alangkah buruknya kata-kata
yang keluar dari mulut mereka;
mereka tidak mengatakan
(sesuatu) kecuali dusta.” ( QS.
Al-Kahfi: 5 )
TENTANG PENAMAAN SALAFI
Saudara Idahram mengklaim
nama salafi hanyalah upaya
ganti baju para pengikut
dakwah Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab rahimahullah
(pada hal. 27). Menurutnya,
penamaan salafi itu sendiri
muncul pertama kali di Mesir
setelah penjajahan Inggris
(pada hal. 29)
Pembaca yang budiman, telah
dimaklumi bersama bahwa salafi
( ﺍﻟﺴﻠﻔﻲ )itu bermakna
pengikut generasi salaf (
ﺍﻟﺴﻠﻒ ), sedangkan yang
dimaksud dengan generasi Salaf
adalah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para
sahabatnya. Dan ummat Islam
tidak berbeda pendapat akan
keharusan meneladani Rasulullah
shallallahu
‘alaihi wa sallam dan
para sahabatnya, sehingga
mincul istilah salafi untuk
membedakan para pengikut
Salaf dengan golongan yang
menyimpang dari jalan Salaf.
Sama halnya dengan penamaan
Ahlus Sunnah wal Jama’ah,
penamaan ini secara nash, juga
tidak terdapat dalam Al-Qur’an
dan As-Sunnah. Walaupun
demikian tidak ada yang
mencela penamaan ini, bahkan
ulama memunculkan penamaan
ini demi untuk membedakan
golongan yang benar dan
golongan yang menyimpang dari
sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para
sahabat. Golongan inilah
golongan yang selamat (al-
firqotun najiyah) yang
dimaksudkan oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam hadits,
ﻭ ﺗﻔﺘﺮﻕ ﺃﻣﺘﻲ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺙ ﻭ
ﺳﺒﻌﻴﻦ ﻣﻠﺔ ﻛﻠﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﺇﻻ ﻣﻠﺔ
ﻭ ﺍﺣﺪﺓ ﻣﺎ ﺃﻧﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺃﺻﺤﺎﺑﻲ
“Dan akan berpecah ummatku
menjadi 73 millah, semuanya di
neraka kecuali satu, yaitu yang
mengikuti aku dan para
sahabatku.” ( HR. Al-Imam At-
Tirmidzi )[6]
Dalam riwayat lain,
ﺇﻥ ﺃﻣﺘﻲ ﺳﺘﻔﺘﺮﻕ ﻋﻠﻰ ﺍﺛﻨﺘﻴﻦ
ﻭ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﻛﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﺇﻻ ﻭ
ﻫﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ
“Sesungguhnya ummatku akan
terpecah menjadi 73 golongan,
semuanya di neraka kecuali
satu, yaitu al-jama’ah.”[7]
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab
rahimahullah berkata
dalam kitabnya Risalah Ila Ahlil
Qosim,
“Aku berkeyakinan seperti yang
diyakini
oleh golongan yang
selamat (al-firqotun najiyah),
yaitu golongan Ahlus Sunnah
wal Jama’ah, aku beriman
kepada Allah, Malaikat-
malaikatNya, Kitab-KitabNya,
Rasul-rasulNya, kebangkitan
setelah kematian dan aku
beriman kepada takdir Allah,
baik dan buruknya.”[8]
Asy-Syaikh Abdullah bin
Muhammad bin Abdul Wahhab
rahimahullah berkata, “Mazhab
kami dalam ushuluddin adalah
mazhab Ahlus Sunnah wal
Jama’ah dan jalan beragama
kami adalah jalan salaf.”[9]
Pembaca yang budiman,
demikian hakikat ajaran Salafi
yang mereka namakan Wahabi,
sebenarnya Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab rahimahullah
sama sekali tidak membawa
ajaran baru, melainkan ajaran
generasi salaf. Adapun klaim
saudara Idahram bahwa
penamaan salafi baru muncul
setelah penjajahan Inggris di
Mesir, ini adalah kebohongan
publik demi untuk menggiring
opini seakan-akan dakwah
Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab rahimahullah adalah
ajaran baru.
Mari kita lihat penyebutan
nama salafi dari kitab-kitab
ulama dahulu.[10]
1. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata
tentang Al-Imam Ad-
Daruquthni, “Orang ini (yaitu,
Ad-Daruquthni) tak pernah
masuk ke dalam ilmu kalam dan
jidal, dan tidak pula terjun ke
dalamnya, bahkan ia
adalah salafi .” ( Siyar A’lam
An-Nubala’ (16/457) )
2. Al-Imam Ad-Dzahabi berkata
tentang Al-Imam Muhammad bin
Muhammad Al-Bahroni, “Dia
adalah seorang yang taat
beragama, orangnya baik
lagi salafi .” ( Mu’jam Asy-
Syuyukh (2/280) )
3. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata
tentang Al-Imam Sholahuddin
Abdur Rahman bin Utsman bin
Musa Al-Kurdi Asy-Syafi’i,“Dia
adalah seorang salafi bagus
aqidahnya.” ( Tadzkiroh Al-
Huffazh (4/1431) )
4. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata
tentang Al-Imam Abdullah Ibnul
Muzhoffar bin Abi Nashr bin
Habatillah, “Dia adalah seorang
yang tsiqoh (terpercaya),
sholeh, lagi salafi .” ( Tarikh
Al-Islam (1/4236) )
5. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata
tentang Al-Imam Al-Qodhi Abul
Hasan Umar bin Ali Al-Qurosyi
Abil Barokat Ad-Dimasyqi,“Dia
adalah seorang waro’, sholeh,
beragama, lagi salafi .” ( Tarikh
Al-Islam (1/4849) )
6. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata
tentang Al-Imam Abdur Rahman
bin Al-Khodhir bin Al-Hasan bin
Abdan Al-Azdi, “Dia adalah
seorang sunni, salafi , lagi
atsari –semoga Allah
merahmatinya-.” ( Tarikh Al-
Islam (1/4861) )
7. Al-Imam Ash-Shofadi berkata
tentang Al-Imam Tajuddin At-
Tibrizi Asy-Syafi’i, “Dia adalah
seorang salafi , lagi tegas
menyatakan kebenaran.” ( Al-
Wafi fil Wafayat (1/2603) )
8. Al-Hafizh Ibnu Abdil Hadi
rahimahullah berkata tentang
gurunya, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, “Beliau senantiasa di
atas hal itu (sibuk dengan ilmu)
sebagai generasi penerus yang
sholeh lagi salafi .” ( Al-‘Uqud
Ad-Durriyyah (ha. 21) )
Inilah penukilan terhadap
penamaan salafi dari para ulama
dahulu
dalam memuji seorang
yang berpegang teguh dengan
ajaran Salaf. Jadi bukanlah
suatu yang baru muncul di
Mesir setelah penjajahan Inggris
seperti yang diklaim oleh
saudara Idahram. Agar lebih
jelas bagi para pembaca
tentang hakikat ajaran Salafi,
berikut kami lampirkan fatwa
MUI Jakarta Utara.
Download Fatwa MUI
Jakarta Utara tentang
SALAF/SALAFI : http://
www.mediafire.com/file/
hpr8q3u0g7oua57/fatwa-
mui1.pdf
(format pdf)
Footnote:
[1] Muhammad bin Abdul
Wahhab Muslihun Mazlumun
wa Muftara ‘Alaihi, hal. 193 .
[2] Lihat Fiqhul Asmaail
Husna , Syaikhuna Prof. Dr.
Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin
Al-‘Abbad hafizhahullah, hal. 142.
[3] HR. Al-Imam At-Tirmidzi
dan beliau berkata Hadits ini
Hasan Shahih dari Abdullah bin
Abbas radhiallahu ‘anhuma dan
dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani
dalam Shahihul Jami’, no.
7959 .
[4] Menguburkan seseorang di
masjid termasuk bid’ah dan
dapat mengantarkan kepada
perbuatan syirik. Sehingga para
ulama melarang sholat di masjid
yang dibangun di atas kuburan,
karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam
melarang sholat di
kuburan.
[5] Maj’muatur Rosaail At-
Taujihaat Al-Islamiyyah Li
Ishlahil Fardi wal Mujtama’,
3/191 .
[6] HR. Tirmidzi no. 2641 dari
Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash
radhiallahu ‘anhuma dan
dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani
rahimahullah dalam Shohihul
Jami’, no. 9474 dan Al-
Misykah, no. 171 pada tahqiq
keduanya.
[7] HR. Al-Imam Ibnu Abi
‘Ashim dalam As-Sunnah dari
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu
dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-
Albani dalam Zhilalul Jannah,
no.64 .
[8] Syarhu Risalah Ila Ahlil
Qosim , Syaikh Shalih Al-Fauzan,
hal. 15-16.
[9] Ad-Durorus Saniyah,
1/126 , sebagaimana dalam Min
A’lamil Mujaddidin, hal.110 .
[10] Dari artikel Al-Ustadz Abdul
Qodir, Lc. Hafizhahullah di
www.almakassari.com yang
berjudul, “Terlarangkah
Memakai Nisbah As-Salafiy
atau Al-Atsariy” , dengan
sedikit perubahan.
Ditulis oleh Al-Ustadz Sofyan
Chalid bin Idham Ruray
hafidzhahullah dalam buku
“ Salafi, Antara Tuduhan
dan Kenyataan ” penerbit
TooBagus cet. pertama.
Bantahan terhadap buku
“ Sejarah Berdarah Sekte
Salafi Wahabi ” karya Syaikh
Idahram hadahullah.
Sumber : Note FB by Rizky Abu
Salman
Sumber: http://abangdani.wordpress.com/2011/08/18/menjawab-tuduhan-idahram-tentang-julukan-wahabi-penamaan-salafi/ tanpa menyertakan scan bukunya .
diposkan 12 maret 2012