Old school Easter eggs.

Home||Back

Mana yang Lebih Utama: Mempelajari Dalil ataukah Cukup Bertaqlid dengan Salah Satu Madzhab
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin

Syaikh Utsaimin pernah ditanya: Seorang penuntut ilmu yg masih pemula, apakah dia memulai menuntut ilmu dengan mempelajari dalil ataukah cukup bertaqlid dengan salah satu madzhab, apa nasihatmu untuk mereka?

Jawab
Wajib bagi seorang penuntut ilmu yang masih pemula untuk mempelajari dalil sesuai kadar kesanggupannya. Karena hal inilah yang dituntut agar mereka sampai kepada dalil, agar mereka bisa latihan mencari dalil dan mengetahui cara beristidlal. Maka jadilah ia seorang yang berjalan menuju Allah Ta'ala dengan bashirah dan burhan.
Dan tidak boleh baginya taqlid kecuali karena hal yang mendesak. Seperti jika dia sudah mempelajari dalil namun tidak mendapatkan buah hasil, atau engkau menceritakan kepadanya suatu permasalahan yang ingin segera engkau ketahui hukumnya, namun dia tidak mengetahui hukum tersebut dengan dalil karena kemampuanya telah hilang, maka dalam kondisi ini seseorang boleh taqlid dengan niat dia akan ruju' ketika telah jelas baginya dalil.
Jika ada banyak perbedaan pendapat, maka ada yang mengatakan hendaknya dia memilih dan mengambil pendapat yang paling mudah. Karena hal ini bersesuaian dengan firman Allah Ta'ala,
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagi kalian". (Al Baqarah: 185)
Namun ada juga yang mengatakan hendaknya dia mengambil yang paling sulit, karena itu lebih hati-hati dan karena yang lainnya itu perkara syubhat, dan Nabi shalallahu'alaihi wasallam bersabda:
فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ
"Barangsiapa menjauhi perkara syubhat maka sungguh dia telah menjaga agama dan kehormatannya" (Muttafaqun'alaih)
Dan yang paling kuat (dari dua pendapat ini), hendaknya dia mengambil pendapat sesuai prasangkanya yang kuat, kira- kira pendapat mana yang lebih mendekati kebenaran, dipilih berdasarkan mufti yang paling 'alim dan yang paling hati-hati (dalam berfatwa). Wallahu a'lam
[Dinukil dari kitab Kitabul 'Ilmi, Penulis Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar'i, Penerjemah Abu Abdillah Salim bin Subaid, Penerbit Pustaka Sumayyah]
Diposkan pada 18 januari 2011