Disneyland 1972 Love the old s

Home || Back
Agama Ini Datang Dari Sisi Allah Ta'ala Tidak Diletakkan di Atas Akal Maupun Pemikiran Seseorang
Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta'ala:
واعلم رحمك الله أن الدين إنما جاء من قبل الله تبارك وتعالى لم يوضع على عقول الرجال وآرائهم وعلمه عند الله وعند رسوله فلا تتبع شيئا بهواك فتمرق من الدين فتخرج من الإسلام فإنه لا حجة لك فقد بين رسول الله صلى الله عليه وسلم لأمته السنة وأوضحها لأصحابه وهم الجماعة وهم السواد الأعظم والسواد الأعظم الحق وأهله فمن خالف أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم في شيء من أمر الدين فقد كفر
Dan ketahuilah, semoga Allah Tabaroka wata'ala merahmatimu, sesungguhnya agama ini datang dari sisi Allah Tabaroka wata'ala tidak diletakkan di atas akal maupun pemikiran seseorang. Ilmunya di sisi Allah Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu'alaihi wasallam. Janganlah sekali-kali kamu mengikuti sesuatu dengan hawa nafsumu yang akan menyebabkan kamu terlempar dari agama ini sehingga kamu keluar dari Islam. Karena sesungguhnya tidak ada hujjah bagimu. Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah menjelaskan sunnah kepada umat ini dan menerangkan kepada shahabatnya Radhiallahu'anhum, mereka itulah Al Jama'ah, dan mereka itulah As Sawadul A'dham. As Sawadul A'dham adalah al haq (kebenaran) dan ahlinya. Barangsiapa yang menyelisihi shahabat Radhiallahu'anhum pada suatu perkara dari agama ini maka dia telah kafir.

Syaikh Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi
Ungkapan yang seperti ini sering terulang dalam ucapan penulis Rahimahullahu Ta'ala. Yang semisal ini maknanya bisa dibawa kepada salah satu dari tiga kemungkinan berikut ini:
1. Mungkin yang beliau Rahimahullah maksud bahwasanya siapa saja yang menentang sesuatu yang berkenaan dengan aqidah Islam yang bersifat asasiyah (fundamental) maka dia telah kafir.
2. Atau mungkin yang beliau Rahimahullah maksud bahwa mengamalkan hal tersebut terkadang mengantarkan kepada kekafiran.
3. Bisa jadi pula yang beliau Rahimahullah maksud dengannya adalah kufrun duna kufrin, yaitu kekufuran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Yakni kufur nikmat.
Dan tidaklah setiap orang yang menyelisihi suatu perkara dari perkara-perkara yang ditempuh oleh para shahabat Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam itu dikafirkan dengan kekafiran yang mengeluarkan dari agama Islam. Yang seperti ini bukan termasuk aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Anas ibnu Malik Radhiallahu'anhu berkata tatkala dia tiba di Madinah pada ahir hayatnya,
"Aku tidak mengetahui sedikitpun dari apa yang aku jumpai selain shalat ini, dan shalat ini pun telah disia-siakan." [Atsar ini dibawakan oleh Imam Al Bukhari dari Anas ibnu Malik dengan semua jalan periwayatannya dalam kitab Mawaqit As Shalah, bab: Tadhyyi'us Shalati 'an Waqtiha]
Dalam riwayat yang lain, "kalian telah mengeluarkan shalat ini dari waktu-waktunya".
Namun Anas ibnu Malik Radhiallahu'anhu tidak mengkafirkan mereka dan tidak ada seorang pun dari ulama Ahlus Sunnah yang membawa ucapan beliau Radhiallahu'anhu ini (menjadikannya dalil) untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan hal seperti itu pada masanya.
Dengan demikian perkataan beliau,
فمن خالف أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم في شيء من أمر الدين فقد كفر
"Barangsiapa yang menyelisihi shahabat Radhiallahu'anhum pada suatu perkara dari agama ini maka dia telah kafir." Memungkinkan untuk dibawa kepada kemungkinan- kemungkinan yang telah kami sebutkan di atas. Sebab di antara aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah bahwasanya mereka tidak mengkafirkan seorang Muslim dengan dosa yang mereka lakukan, kecuali apabila dosa tesebut berupa kesyirikan, menentang suatu hukum yang telah disepakati atau menjadikan agama ini dan pemeluknya sebagai bahan olok- olokan serta yang semisal dengannya termasuk dalam pembatal-pembatal keislaman seseorang. Demikian juga mereka tidak mengkafirkan seseorang dengan dosa yang dia kerjakan meskipun dosa tersebut termasuk dosa besar, dan terus menerus mengerjakan dosa tersebut serta mati di atasnya. Sebab dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah menunjukkan akan kebenaran aqidah ini.
Adapun perkataan beliau Rahimahullah,
اعلم رحمك الله أن الدين إنما جاء من قبل الله تبارك وتعالى لم يوضع على عقول الرجال وآرائهم
"Dan ketahuilah, semoga Allah Tabaroka wata'ala merahmatimu, sesungguhnya agama ini datang dari sisi Allah Tabaroka wata'ala tidak diletakkan di atas akal maupun pemikiran seseorang."
Hal ini sangat jelas dan gamblang, Allah Ta'ala berfirman,
يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul di antara kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al A'raaf:: 35)
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
" Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al Hijr: 9)
Allah Subhanahu wata'ala telah menjaga Al Quran dari kebohongan dan kedustaan tukang ramal, paranormal, dan para dukun. Dan Allah Subhanahu wata'ala telah menghalangi syaitan-syaitan dari mencuri dengar tatkala Al Quran diturunkan. Agar mereka tidak mengutip sedikitpun dari kalam tersebut, sehingga mereka akan melemparkannya kepada para dukun yang ahirnya para dukun tersebut akan menginformasikan kutipan tersebut dan mencampurnya dengan kebathilan (kedutaan). Akan tetapi Allah Subhanahu wata'ala membersihkannya dari hal itu sejak menurunkan Al Quran ini dan menjaganya setelah diturunkan dari usaha penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang di dalam hatinya terdapat bibit-bibit penyimpangan dari tipu daya pembuat makar dan dari kedustaan serta kebohongan orang-orang yang suka membuat kedustaan. Hingga Al Quran tersebut sampai pada kita dalamn keadaan murni, jelas, dan selamat dari pengaruh asing. Dan Allah Subhanahu wata'ala telah menjaga Sunnah dengan orang- orang yang telah dipersiapkan oleh Allah Subhanahu wata'ala untuk menjaganya, sehingga mereka membersihkannya dari segala sesuatu yang asing, menjaganya dari perubahan- perubahan yang dimasukkan oleh orang-orang yang menyimpang. sehingga As Sunnah tetap nampak jelas seperti jelasnya matahari, terang seperti terangnya cahaya fajar. Demikian Allah Subhanahu wata'ala menyiapkan ulama Ahlul Hadits pada setiap zaman untuk membersihkannya dari semua hadits dhaif (lemah), maudhu (palsu), dan makdzub (hadits dusta).
Maka dengan hal ini kalian ketahui bahwasanya hujjah telah tegak, tidak ada kewajiban bagimu selain mengikuti kebenaran dan mempelajarinya dari sumber-sumber aslinya agar mengetahuinya dan mengamalkannya serta memberikan petunjuk kepada orang yang minta biimbingan kepadamu.
Kemudian ketahuilah! bahwasanya kebenaran adalah apa yang datang dari sisi Allah Tabaroka wata'ala dan Rasul-Nya Shallallahu'alaihi wasallam berupa Al Kitab dan As Sunnah meskipun sedikit orang yang mengikuti dan berpegang dengannya.
Maka apa saja yang datang dari syariat ini adalah al haq (kebenaran) yang diperintahkan untuk diikuti meskipun kebanyakan manusia menyelisihinya dan sedikit orang yang mengikutinya. Allah Ta'ala berfirman,
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu Sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa." (Al Jaatsiyyah: 18-19)
Oleh karena itu semangatlah wahai hamba Allah! semangatlah untuk mengikuti kebenaran, menempuh jalan Shirathal Mustaqim untuk meneladani ulama Salaf, yaitu Shahabat Radhiallahu'anhum dan jangan merasa minder dengan sedikitnya orang-orang yang menempuh jalan tersebut serta banyaknya orang-orang yang menyelisihinya. Sungguh nabi Ibrahim Alaihis salam dahulu adalah umat yang satu (satu- satunya orang yang beriman pada saat itu). Wabillahit taufiq.
[Dari Kitab Irsyaadus Saari ila Taudhihi Syarhis Sunnah lil Imam Al Barbahari, Edisi Indonesia Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari Meniti Sunnah di Tengah Badai Fitnah oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi, Penerbit Maktabah Al Ghuroba, hal 83-89]
http://sunniy.wordpress.com/2008/08/05/agama-ini-datang-dari-sisi-allah-taala-tidak-diletakkan-di-atas-akal-maupun-pemikiran-seseorang/
Diposkan pada 2 Juni 2009

Iklan dari Host::